Imam Wajib Meluruskan Shaf

(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII)
PERTANYAAN :

Sebelum mengucapkan takbir dalam shalat, imam menghadap makmum untuk meluruskan dan merapatkan shaf. Apa yang seharusnya diucapkan ? Bila imam tidak melakukannya, bagaimana hukumnya? Tolong diberikan contoh-contoh dari hadits dan Sahabat.


JAWABAN :

Diwajibkan bagi seorang imam untuk tidak memulai shalat sampai ia meluruskan shaf[1] dan memerintahkan para makmum untuk meluruskan shafnya. Hal ini bisa dilakukan oleh imam itu sendiri atau imam meminta orang lain meluruskannya. Dalilnya adalah sebagai berikut: :

hadits

Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dahulu mengusap
bahu-bahu kami dalam shalat (ketika akan shalat) dan menyatakan:
“Luruskan dan janganlah shaf kalian bengkok sehingga berakibat hati kalian berselisih.”
(HR Muslim)



Dalam hadits ini Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam mengucapkan bacaan seperti ini, bukan untuk mewajibkan agar ucapan beliau ini ditiru ketika meluruskan shaf. Namun tujuannya adalah memerintahkan para sahabatnya meluruskan shaf.

Karena itu beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam mengungkapkannya dalam banyak ungkapan yang intinya perintah meluruskan shaf. Diantara yang beliau ucapkan selain lafazh di atas adalah :

hadits

Luruskan shaf, ratakan bahu-bahu kalian,
tutupi celah dan bersikap lunaklah terhadap tangan tangan saudara kalian
(mudah diatur untuk meluruskan dan merapatkan shaf).
(HR Abu Daud dan dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullâh
dalam Shahîh Abu Daud, no. 620)

hadits

Luruskanlah shaf-shaf kalian,
karena sesungguhnya lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.
(HR Muslim)

hadits

Luruskan dan ratakan shaf-shaf kalian
(HR Abu Daud)

hadits

Ratakan dan luruskan shaf-shaf kalian
(HR Abu Daud)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa seorang imam diperintahkan meluruskan shaf makmum baik dengan perbuatan anggota tubuh atau dengan perkataan yang dapat dipahami makmum sehingga mereka dapat meluruskan shafnya, misalnya : “Luruskan shaf kalian!”

Seorang imam tidak cukup hanya dengan mengucapkan “Luruskan shaf kalian!” lalu memulai shalat. Dia harus memastikan shaf makmumnya sudah lurus dan rapat, baru memulai shalat. Sebagaimana yang dilakukan oleh Umar bin Khaththab radhiyallâhu’anhu yang menyuruh seseorang untuk meluruskan shaf makmum. ‘Umar tidak akan memulai shalat sampai orang yang diberi tugas meluruskan shaf memberitahukan bahwa shaf telah lurus. Begitu juga ‘Utsmân bin ‘Affân radhiyallâhu’anhu dan ‘Ali bin Abu Thâlib radhiyallâhu’anhu selalu menjaga sunnah ini.[2]

[1]

Lihat al Qaulul Mubîn Fî Akhthâ’il Mushallîn, Syaikh Mashûr Salmân, hlm. 208

[2]
Lihat al Qaulul Mubîn Fî Akhthâ’il Mushallîn, Syaikh Mashûr Salmân, hlm. 214

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s