Orang Tua Semangat Beribadah, dimanakah posisi kita?

Iqamat pun telah di kumandankan oleh sang muadzin. Lelaki tua dan sangat tua sekali persis di samping kanan saya pun bergegas bangkit dari tempat duduknya usai melaksanakan shalat 2 rakaat. Begitu semangatnya orang tua ini untuk mendapatkan shaf pertama. Ia menjulurkan tangan kanannya diantara shaf-shaf pertama. Awalnya aku mengira bahwa ia akan menitipkan sesuatu untuk dititipkan di depan shaf pertama untuk menghidari hal-hal yang tidak diinginkan.

Akupun heran melihat orang tua ini, ternyata ia ingin berdiri di shaf pertam. Masya Allah, ia begitu masih semangatnya untuk mendapatkan keutamaan shaf pertama. Aku jadi iri melihatnya, hmm,,, dalam hatiku bergumam.

Sejenak pikiranku pun melayang tinggi terbang diangkasa,,, Ya Allah, berikanlah aku semangat yang tinggi pula untuk beribadah kepadamu. Akankah dipenghujung hidupku ini akan memiliki semangat yang tinggi pula untuk beribadah seperti orang tua ini? Hatiku merasa sedih dan sedikit terisak tangisku memikirkan penghujung hidup ini.

Yaa musabbital quluub, tsabbit qolbii ‘alaa diinika (Wahai yang membolak-balikkan hati, Tetapkan hati ini diatas agamamu)

Jamaah pun telah berdiri semua dan meluruskan shaf-shafnya masing-masing. Sambil aku meluruskan shaf, mataku tetap tertuju pada orang tua tersebut. Posisi berdirinya pun tidak normal lagi, punggungnya pun telah membungkuk karena pengaruh usia yang udah amat sangat tua sekali. Namun beliau pun tetap semangat untuk menyempurnakan shalatnya dengan cara berdiri. Ya Allah, semangat sekali orang tua ini dalam shalat berjamaahnya.

Setelah imam selesai membaca Al-fatihah, beliau pun tak tahan lagi shalat dalam keadaan berdiri, maka ia pun langsung duduk it’qa (duduk diatas kedua tumit). Subhanallah, aku pun yakin bahwa ia tahu sunnah duduk semacam itu yang jarang diamalkan orang sebagian orang. Namun beberapa menit kemudian, karena bacaan imam terlalu panjang maka beliau mengubah posisi duduknya menjadi duduk tawarruq (duduk diantara kedua sujud).

Dirakaat kedua, beliau pun berusaha berdiri kembali, namun persis setelah selesai membaca Al-Fatihah, ia langsung duduk dan seterusnya sampai shalat pun selesai.

Yah, kata yang teringat setelah membaca kisah ini, “tak ada kata terlambat dalam berbuat baik, selama nyawa masih dikandung badan, tetap semangat dalam menghambakan diri kepada Allah Subhanahu Wa taala”. Dimanakah rasa malu kita wahai para pemuda islam? Adzan yang dikumandangkan, justru kita bermalas-malasan dalam memenuhi panggilannya. Apakah ada jaminan hidup kita akan mencapai umur 60-70 tahun? Bila kita tak tahu kapan tamu kematian itu datang, selayaknya kita menpersiapkan diri untuk menghadapinya.

RS Pelamonia Makassar (Ruang Tulip 414)

13 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s