Menentukan Satu Ramadhan dan Satu Syawal

 Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kita semua tentang kemudahan dalam beragama bahwa:
Pertama: Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman,
مَا يُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ
“Tidaklah Allah hendak menyulitkan kalian.” (Al-Maidah: 6)
Kedua: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sabdanya:
إِنَّ الدِّيْنَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّيْنَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama Islam adalah mudah. Dan tidaklah seorangpun yang memberat-beratkan diri dalam agama ini kecuali dia sendiri yang akan terkalahkan olehnya.” (HR. Al-Bukhari).

Masalah Penentuan Awal Ramadhan sangatlah mudah sekali bila kita kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Di antara bentuk kemudahan yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan di dalam syariat-Nya adalah telah ditentukannya waktu untuk memulai dan mengakhiri ibadah dengan tanda-tanda yang jelas serta bisa diketahui oleh keumuman orang. Termasuk dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan cara menentukan satu Ramadhan dan satu Syawal. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صُوْمُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan beridul fitrilah kalian karena melihat hilal, namun apabila kalian terhalang dari melihatnya maka sempurnakanlah bulan menjadi tiga puluh hari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Di dalam hadits ini, kita mengetahui betapa mudahnya syariat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan untuk menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan. Sehingga aturannya bisa dilakukan oleh keumuman kaum muslimin. Yaitu ditetapkan dengan cara melihat hilal atau kalau tidak terlihat maka menggunakan cara yang kedua yaitu dengan menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Oleh karenanya, wajib bagi kaum muslimin untuk menjalankan syariat ini dan tidak boleh bagi siapapun dari kaum muslimin untuk membuat aturan yang baru dalam menetapkan awal Ramadhan atau satu Syawal. Barangsiapa menggunakan cara selain dengan dua cara tersebut, maka dia telah menyelisihi kemudahan yang diberikan oleh Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam di dalam agama Islam.

Jadi Penentuan Awal Ramadhan haruslah melihat hilal dulu, namun bila belum muncul maka sempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Namun sangat disayangkan sekarang ini, lebih banyak mendahulukan hisab daripada melihat hilal. Bukannya kami menafikan kemajuan teknologi di zaman ini, Namun Nabi dan para Sahabatnyalah yang lebih tahu masalah agama ini bukan teknologi atau orang-orang yang datang setelahnya.

Bahkan kalau mau berlogika , Mengapa konteks hadits diatas tidak mendahulukan penyebutannya hisab baru melihat hilal? Oleh karena itu, aturannya sudah jelas bahwa melihat hilal dulu, meski hilal sudah “ada” namun tertutupi awan dan menyebabkan tidak terlihatnya hilal, maka wajib bagi kita untuk menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. kalau tidak nampak baru menggunakan hisab (perhitungan).

Masalah penentuan masuknya bulan adalah wewenang pemerintah (Ulil Amri).

Imam Ibnu Jamâ’ah Asy-Syâfi’iy menjelaskan tentang wewenang pemerintah, yang merupakan kewajibannya kepada rakyat, “Wewenang Ketiga: penegakan simbol-simbol Islam, seperti shalat-shalat wajib, shalat Jum’at, shalat berjamaah, adzan, iqamah, khutbah, dan keimaman. Juga mengawasi urusan puasa, berbuka, hilal, haji ke Baitullah, dan umrah. Juga memperhatikan hari-hari Id ….”[Tahrîr Al-Ahkâm Fî Tadbîr Ahl Al-Islâm hal. 66.]

Oleh karena itu, saat pemerintah Indonesia telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada Sabtu, 21 Juli 2012 M, karena seluruh titik pemantauan hilal dari lembaga pemerintah maupun pihak-pihak lainnya tidak melihat hilal pada Kamis sore, 19 Juli 2012 M, maka pemerintah menetapkan ikmâl Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Putusan tersebut telah benar dan telah berdasarkan petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam penentuan masuknya bulan.

Kewajiban kita, selama pemerintah tidak memerintah dalam hal yang mungkar, adalah taat kepada mereka dalam hal yang ma’ruf. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, serta taatlah kepada Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisâ`: 59]

Dari ‘Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

((دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا، وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ)).

“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membaiat beliau, dan di antara (janji) yang beliau ambil atas kami adalah, ‘Kami berbaiat untuk mendengar dan menaati (pemimpin) dalam keadaan semangat dan terpaksa, serta dalam keadaan mudah dan susah, meski terjadi pementingan hak pribadi terhadap kami, serta kami tidak boleh menggugat perkara itu dari pemiliknya, kecuali bila kalian melihat kekufuran yang sangat nyata, yang kalian memiliki argumen tentang (kekufuran) itu di sisi Allah.’.”[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.]

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

((إِسْمَعْ وَأَطِعْ فِيْ عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ، وَإِنْ أَكَلُوْا مَالَكَ، وَضَرَبُوْا ظَهْرَكَ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ مَعْصِيَةً)).

“Dengar dan taatlah pada waktu susah dan mudah serta dalam keadaan bersemangat dan terpaksa, meski terjadi pementingan hak pribadi terhadapmu, juga walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu, kecuali jika hal tersebut merupakan suatu maksiat.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân dari Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu]

Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas sangatlah banyak.

Masalah terjadi silang pendapat di kalangan ulama bahwa, bila hilal telah terlihat pada suatu negeri, apakah rukyat hilal tersebut berlaku juga untuk penduduk negeri yang lain?

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama baik terdahulu maupun belakangan- tentang hal tersebut. Walaupun pendapat yang menyatakan rukyat hilal tersebut berlaku untuk seluruh negeri itu lebih kuat, hal tersebut lebih berlaku tatkala seluruh kaum muslimin dipimpin oleh seorang pemimpin atau pada keadaan-keadaan tertentu.

Adapun keberadaan pemerintah kita yang telah menetapkan masuknya Ramadhan berdasarkan rukyat hilal dan telah diikuti oleh kebanyakan manusia, tidak ada alasan bagi rakyat untuk menyelisihi ketetapan tersebut. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Puasa itu adalah hari kalian berpuasa. Berbuka itu adalah hari kalian berbuka. Adh-hâ itu adalah hari kalian ber-udh-hiyah.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu. Dikuatkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 224 dan dalam Irwâ`ul Ghalîl 4/13.]

Setelah meriwayatkan hadits di atas, Imam At-Tirmidzy berkata, “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan perkataannya, ‘Sesungguhnya maknanya adalah bahwa berpuasa dan berbuka itu (dilaksanakan) bersama jamaah dan kebanyakan manusia.’.”

Pada akhir jawaban ini, kami mengingatkan kaum muslimin akan etika dan adab agung dari para ulama dalam hal berbeda pendapat.

Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu, beliau mengerjakan shalat di Mina secara sempurna tanpa mengqashar. Oleh karena itu, Abdullah bin Mas’ûd  radhiyallâhu ‘anhu berbeda pendapat dengan Utsman seraya berargumen bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta Abu Bakr dan Umar radhiyallâhu ‘anhumâ mengerjakan shalat dengan qashar. Namun, ketika Utsman mengimami shalat, Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu -yang bermakmum kepada Utsman- ikut mengerjakan shalat secara sempurna bersama Utsman. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, beliau menjawab,

الْخِلَافُ شَرٌّ

“Perbedaan pendapat adalah kejelekan.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd.]

Juga perhatikanlah bagaimana Ali bin Abi Thalib melaksanakan haji Qirân karena diperintah oleh Utsman bin Affan, padahal Ali sendiri berpendapat dengan haji Tamattu’[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim].

Semoga Allah menyatukan kaum muslimin di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta menghindarkan mereka dari segala sebab perselisihan dan perpecahan. Amin.

Download Ceramah tentang rukyatul hilal

Kewajiban Ketaatan Kepada Pemerintah Dalam Penetapan Hilal.mp3 (Size: 7.70 MB)

Sumber:

  1. http://dzulqarnain.net/berpuasa-pada-hari-jumat-atau-hari-sabtu.html
  2. http://abuthalhah.wordpress.com/2012/07/16/menyikapi-perbedaan-dalam-menentukan-awal-dan-akhir-ramadhan/
  3. http://muslim.or.id/ramadhan/menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html
  4. http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=1535
  5. http://wimakassar.org/wp/2012/07/14/menyikapi-perbedaan-dalam-menentukan-awal-dan-akhir-ramadhan/
  6. http://www.konsultasisyariah.com/berpuasa-pada-hari-jumat-atau-hari-sabtu/#axzz21RYX7bwZ

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s