Artikel: Kenalilah Dengan Baik Adat Istiadat Setempat, Oleh : Abdullah Haidir

rumah-adt-sum-baratKata orang tua kita, di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung. Kata-kata yang bijak ini sangat tepat bagi kita yang sedang berada di rantau, meskipun bukan berarti penerapannya bersifat mutlak.

Namun yang penting adalah bagaimana kita dapat memahami adat istiadat dan budaya setempat. Paling tidak hal tersebut akan membantu kita untuk menata diri dalam pergaulan. Hal ini sangat banyak membantu kita untuk dapat diterima dengan baik dalam lingkungan kita di negeri orang ini, dan menghindari kita dari respon atau tindakan negatif akibat tindakan yang dianggap “tidak tau adat”. Maka hendaklah kita perhatikan masalah pembicaraan, makanan, pakaian, pergaulan, penampilan dsb.

Tentu saja sikap ini diambil bukan tanpa penyaringan. Sebab dimana-mana yang namanya adat dan budaya dalam pandangan Islam ada dua kemungkinan; ada yang dapat diterima dan ada yang tidak. Continue reading

Advertisements

Artikel: Kejeniusan IYAS BIN MU’AWIYAH

qmlbirp3Nama beliau adalah Iyas bin Muawiyah bin Qurrah Al Muzanni, lahir pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau pindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya.

Telah nampak bakat dan kecerdasan beliau sejak masih kecil. Orang-orang sering membicarakan kehebatan dan beritanya kendati beliau masih kanak-kanak.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni diangkat menjadi Qadhi (hakim) di Bashrah. Beliau terkenal sebagai hakim yang cerdas. Alkisah tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas, sehingga orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula yang hendak berdebat kusir.

Diantara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persia dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya:

Duhqan: “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?”

Iyas: “Haram!”

Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal.” Continue reading

Artikel: —@@ SEPENGGAL DIALOG DI SEBUAH PERNIKAHAN ( WALIMATUL URSY ) @@–

walimah zu & zabidi 8Beberapa komentar orang seputar pernikahan dari sebagian ikhwah penuntut ilmu :

01. Tamu : “Mempelai laki2nya kemana? koq tidak ada di pelaminan?”

Panitia : “Mempelai laki2nya sedang shalat berjama’ah di masjid, pak…”

02. Penghulu : “Calon istrinya mana? koq tidak ada? Biar bisa dimulai akad nikahnya.”

Mempelai laki2 : “Calon istri saya di dalam kamar pak, bersama keluarganya. Belum dihalalkan untuk saya, jadi masih dipisah dulu.”

03. Panitia : “Maaf pak, disini khusus untuk tamu wanita. Sedangkan untuk tamu laki2 disana.”

Tamu : “Lho…koq tamunya dipisah begini? Istri saya bagaimana, dipisah juga? Nanti repot kalo ngajak pulangnya.”

Panitia : “Dipisah biar tidak ikhtilat (campur baur). Kalo bapak mau panggil istri bapak nanti, biar kami yang memanggilkan.”

04. Tamu : “Walimahannya koq sepi kayak kuburan?! Gak ada musiknya…” Continue reading

Artikel: “Apa Kata Orang”, atau “Apa Kata Allah” ?

membayangkan-300x208Dengarkanlah cerita saya : “Suatu hari, ada seorang tua bersama anaknya yang masih kecil membeli seekor keledai di sebuah pasar. Selesai membeli, mereka kembali dengan membawa seekor keledai. Di tengah perjalanan, orang-orang yang melihat mereka saling berbisik, rupanya mereka mencemooh orang tua tersebut yang menunggang keledai sementara anak kecilnya berjalan kaki menuntun keledai, “Tega-teganya anak sekecil itu disuruh jalan kaki”. Akhirnya sang orang tua memerintahkan anaknya untuk menunggang keledai sementara dia berjalan kaki. Narrvun orang-orang yang melihatnya juga mencemoohnya, “dasar anak tidak tahu diri, orang tuanya malah disuruh jalan kaki”… begitu celoteh mereka.

Kali ini orang tua dan anaknya tersebut berjalan kaki menuntun keledainya, namun tetap saja orang-orang yang mencemoohnya, “Buat apa belt keledai kalau tidak ditunggangi..”. Terakhir, orang tua tersebut dan anaknya sama-sama menunggang keledai itu, apa yang terjadi ?, ternyata itupun tetap mengundang komentar negatif; “dasar ngga punya ‘kepribinatangan’, keledai kecil seperti itu dinaiki berdua…”… Continue reading

Artikel: Kebaikan dan Keburukan = Ujian

baik dan burukJika kita perhatikan hidup ini, maka selalu akan kita dapatkan bahwa jalan kehidupan ini selalu silih berganti aniara kebaikan dan keburukan dalam berbagai bentuknya; kadang senang kadang susah, kadang berhasil kadang gagal, kadang bahagia kadang sedih, begitulah seterusnya.

Namun yang perlu kita sadari adalah bahwa semua itu telah Allah tentukan sebagai ujian bagi kita dalam mengemban tugas kita yang paling utama dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada-Nya.

Dalam al-Quran Allah telah tegaskan hal tersebut:

“Kami akan menguji kamu  dengan keburukan  dan  kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)”. (QS. al-Anbiya : 35)

Jadi, yang namanya ujian bukan saja saat kita tertimpa musibah dan kesulitan, seperti gaji tak lancaiv harta benda yang dicuri atau tertipu, meninggalnya sanak saudara dan lain sebagainya. Tapi juga saat kita senang dan berhasil; seperti majikan yang baik, harta benda yang semakin bertambah, kesehatan fisik. Itupun merupakan ujian bagi kita. Continue reading

Artikel: Ilegal loging, Oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

bumiKetika petaka dengan silih berganti menghampiri negri kita, sebagian orang bilang: Mungkin alam telah bosan untuk bersahabat dengan manusia. 

Ada lagi yang membuat satu analisa bahwa banjir dan tanah longsor sering terjadi karena adanya ilegal loging alias pembalakan liar yang dilakukan dengan tidak bertanggung jawab.

Hutan menjadi gundul, pepohonan ditebang tanpa perhitungan, penghijauan telat dilakukan, Semua itu menyebabkan datangnya banjir, pemanasan global dll.

Analisa di atas bisa saja ada benarnya, Namun pernahkah anda bertanya: Sejak kapankah ada pembalakan liar? 200 tahun silam? Atau 1000 tahun silam, atau mungkinkah ilegal loging terjadi sejak 2000 tahun silam?

Sobat, anda pasti mengetahui bahwa kaum Nabi Nuh alaihissalam dibinasakan dengan banjir, walaupun saat itu dapat dipastikan belum ada ilegal loging.

Bila demikian halnya, apa yang menyebabkan banjir bandang terbesar dalam sejarah umat manusia itu? Continue reading

Artikel: Intinya kita beramal diatas dalil, Oleh : Ibn Andi

photoMasih jelas dlm ingatanku saat itu aku membawa celana kainku yg masih isbal ke tempat tukang jahit kain utk dipotong hingga naik di atas mata kaki. Selang sehari, celana itu aku pakai. Nah, Ayahku yg saat itu menyadari akan perubahanku memanggilku dan berkata; “Nak, knp naikin celana di atas mata kaki? Kamu tdk lagi ikut-ikutan ajarannya kakakmu yg menghilang entah ke mana itu kan? Aku jawab: “Ini sunnah pak, & insya Allah saya tdk sama seperti beliau krn manhaj yg saya pelajari tdk mengajarkan hal yg demikian. Intinya kita beragama di atas dalil saja (al-Qur’an & as-Sunnah).” suasana tenang…

Di lain waktu, ketika beliau (Ayahku) melihatku sholat. Ketika aku bangun dari ruku’ aku bersedekap di dada, kemudian pas saat tahiyat aku menggerak-gerakkan jari telunjuk. Setibanya di rumah, beliau bertanya pdku: “Lah, knp sholat seperti itu, koq sholat seperti hanya main-main sampai goyang-goyangin jari segala?” aku hanya jwb: “Ini sunnah pak, banyak riwayat yg menjelaskan bgmana tata cara sholat nabi. Intinya kita beribadah di atas dalil sj (al-Qur’an & as-Sunnah).

Dan masih banyak kisah-kisah yg lain antara beliau (ayahku) & aku. Dan selalu aku hanya menyampaikan bhwsanya “landasan agama kita ini hanya dua yaitu al-Qur’an & as-Sunnah sbgmana yg dipahami oleh para salafush shalih.” Continue reading

Video Motivasi: Kakek Yang Cacat Fisik Rajin Ke Masjid Untuk Shalat Berjamaah

kakekkuDan, keimanan itulah yang menuntun seorang kakek berusia 77 tahun di sebuah desa di Arab Saudi untuk shalat berjamaah di masjid meski kondisinya cacat.

Meski kakek ini cacat, ia tetap berangkat ke masjid terdekat setiap kali waktu shalat tiba, Ia ke masjid sambil merangkak dengan sokongan kedua tangannya. Subhanallah Allahu Akbar…

Cuplikan sebagian kejadian di atas bisa dilihat di youtube atau di jejaring Facebook. Pengunggah video yang juga perekamnya adalah Abdul Aziz Makhafah, keponakan sang kakek.

Makhafah mengatakan, pamannya itu tinggal di desa Al-Azizah di bukit Saudah dekat kota Abha–Arab Saudi. Sang kakek bernama Abdullah Al Asiri (77) sudah terlahir dalam keadaan cacat dan dirawat oleh kakaknya Ahmad dan dua istrinya.

Kepada Koran Sabq Abdul Aziz menambahkan, kedua istri Ahmad membersihkan dan membuatkan jalan khusus untuk sang kakek agar mudah ke masjid dan tidak tersengat oleh panas matahari.

Lebih mencengangkan, jika hari Jumat kakek ini pergi ke masjid sejauh 3 km dengan merangkak sebelum ada tumpangan kendaraan umum. Meski demikian, ia lebih sering mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain.

Abdul Aziz Makhafah mengatakan, ia telah membuat sebuah film dokumenter singkat pamannya dan diunggah ke Youtube untuk menunjukkan semangat dan tekadnya untuk pergi ke masjid meski dia dalam kondisi terbatas dan cacat.

Di video tampak sang kakek Abdullah menceritakan kedamaian hidupnya ada di masjid. Capek dan lelah yang dialami tak seberapa nilainya dengan kedamaian itu. Continue reading

Artikel: Kisah Di Balik Jendela Kereta

keretaAda orang tua yang duduk bersama anaknya yang berumur 25 tahun di dalam kereta. Tampak sekali keceriaan dan kegembiraan di wajah anaknya yang duduk di samping jendela kereta.
Pemuda itu mengeluarkan tangnnya dari jendela dan merasakan terpaan angin seraya berkata riang, “Ayah…ayah…lihatlah, pepohonan berjalan berkebalikan dgn arah kereta!” Orang tua itu hanya tersenyum memandangi anaknya yang bergembira.
Di sampingnya, duduk pasangan suami istri yang mendengar perbincangan orang tua dan anaknya itu. Mereka tampak risih dan terganggu akan perilaku pemuda yang berumur 25 tahun, tapi bertingkah spt bocah.
Lagi-lagi, pemuda itu berteriak kegirangan melihat pemandangan yang dilaluinya, “Ayah…lihat…awan itu jg berjalan mengikuti kereta!”
Semakin risih dan jengkellah pasangan suami itsri yang di sampingnya.  Continue reading