Artikel: Kenalilah Dengan Baik Adat Istiadat Setempat, Oleh : Abdullah Haidir

rumah-adt-sum-baratKata orang tua kita, di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung. Kata-kata yang bijak ini sangat tepat bagi kita yang sedang berada di rantau, meskipun bukan berarti penerapannya bersifat mutlak.

Namun yang penting adalah bagaimana kita dapat memahami adat istiadat dan budaya setempat. Paling tidak hal tersebut akan membantu kita untuk menata diri dalam pergaulan. Hal ini sangat banyak membantu kita untuk dapat diterima dengan baik dalam lingkungan kita di negeri orang ini, dan menghindari kita dari respon atau tindakan negatif akibat tindakan yang dianggap “tidak tau adat”. Maka hendaklah kita perhatikan masalah pembicaraan, makanan, pakaian, pergaulan, penampilan dsb.

Tentu saja sikap ini diambil bukan tanpa penyaringan. Sebab dimana-mana yang namanya adat dan budaya dalam pandangan Islam ada dua kemungkinan; ada yang dapat diterima dan ada yang tidak. Continue reading

Artikel: “Apa Kata Orang”, atau “Apa Kata Allah” ?

membayangkan-300x208Dengarkanlah cerita saya : “Suatu hari, ada seorang tua bersama anaknya yang masih kecil membeli seekor keledai di sebuah pasar. Selesai membeli, mereka kembali dengan membawa seekor keledai. Di tengah perjalanan, orang-orang yang melihat mereka saling berbisik, rupanya mereka mencemooh orang tua tersebut yang menunggang keledai sementara anak kecilnya berjalan kaki menuntun keledai, “Tega-teganya anak sekecil itu disuruh jalan kaki”. Akhirnya sang orang tua memerintahkan anaknya untuk menunggang keledai sementara dia berjalan kaki. Narrvun orang-orang yang melihatnya juga mencemoohnya, “dasar anak tidak tahu diri, orang tuanya malah disuruh jalan kaki”… begitu celoteh mereka.

Kali ini orang tua dan anaknya tersebut berjalan kaki menuntun keledainya, namun tetap saja orang-orang yang mencemoohnya, “Buat apa belt keledai kalau tidak ditunggangi..”. Terakhir, orang tua tersebut dan anaknya sama-sama menunggang keledai itu, apa yang terjadi ?, ternyata itupun tetap mengundang komentar negatif; “dasar ngga punya ‘kepribinatangan’, keledai kecil seperti itu dinaiki berdua…”… Continue reading

Artikel: Kebaikan dan Keburukan = Ujian

baik dan burukJika kita perhatikan hidup ini, maka selalu akan kita dapatkan bahwa jalan kehidupan ini selalu silih berganti aniara kebaikan dan keburukan dalam berbagai bentuknya; kadang senang kadang susah, kadang berhasil kadang gagal, kadang bahagia kadang sedih, begitulah seterusnya.

Namun yang perlu kita sadari adalah bahwa semua itu telah Allah tentukan sebagai ujian bagi kita dalam mengemban tugas kita yang paling utama dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada-Nya.

Dalam al-Quran Allah telah tegaskan hal tersebut:

“Kami akan menguji kamu  dengan keburukan  dan  kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya)”. (QS. al-Anbiya : 35)

Jadi, yang namanya ujian bukan saja saat kita tertimpa musibah dan kesulitan, seperti gaji tak lancaiv harta benda yang dicuri atau tertipu, meninggalnya sanak saudara dan lain sebagainya. Tapi juga saat kita senang dan berhasil; seperti majikan yang baik, harta benda yang semakin bertambah, kesehatan fisik. Itupun merupakan ujian bagi kita. Continue reading

Artikel: Dengki, Justru Membuatmu Menderita

Menghilangkan-Sifat-Iri-dan-DengkiMeskipun hidup kita telah penuh kenikmatan, sering kita saksikan orang lain mendapatkan kenikmatan lebih besar dari kita; baik kecantikannya, hartanya, kedudukannya dll.

Bagaimana kita menyikapi hal ini ?.

Yang paling tepat adalah kita menghayati firman Allah Ta’ala :

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ فِى ٱلرِّزۡقِ‌ۚ

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki”

(QS. an-Nahl : 71)

Itu artinya, kalau kita mendapatkan kelebihan dibandingkan orang lain semata-mata karena karunia Allah, maka orang lain yang mendapatkan kelebihan dibandingkan kitapun semata-mata karena karunia Allah.

Maka jika kita melihat kelebihan orang lain kepada kita, cukuplah kita ingat firman Allah Ta’ala :

ذَٲلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُ‌ۚ

“Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya”

(QS. al-Hadid : 21)

Sikap ini penting kita miliki untuk menghalau sebuah penyakit hati yang sangat berbahya bagi diri kita, yaitu dengki. Karena penyakit dengki bukan semata-mata disebabkan karena dirinya kekurangan sementara orang lain mendapatkan kelebihan, tapi lebih disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang menata hatinya. Continue reading

Artikel: Sudahkah Anda Mengadu Kepada Allah ?, Oleh: Abdullah Haidir

mengaduYang namanya problem dalam kehidupan tidak akan pernah berhenti. Yang satu selesai, yang lain datang lagi, begitulah dia datang silih berganti menghiasi kehidupan kita. Itu memang sudah ketetapan Allah bagi kehidupan manusia. Siapapun orangnya, apapun status dan kedudukannya.

Sering, ketika diri ini terasa berat menanggung beban, maka kita mengadu kepada orang-orang di sekeliling kita. Dengan harapan ada jalan keluar yang kita dapatkan, atau minimal sekedar melepas keluh kesah yang ada.

Bukan masalah sebenarnya mengadu kepada orang lain atas setiap problem yang kita hadapi sepanjang dilakukan dengan wajar dan kepada orang-orang yang terpercaya.

Namun, ada tempat mengadu yang sering kita lupakan atau abaikan, padahal kesanalah seharusnya pengaduan tersebut pertama kali kita sampaikan sebelum kepada manusia. Yaitu mengadu kepada Pemilik kita dan kehidupan kita; Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Continue reading

Artikel: Jagalah Mulut dan Kehormatanmu

Jagalah Mulut dan Kehormatanmu

silhouette-of-woman-prayingKata orang: “Lidah memang tidak bertulang”, ada juga yang bilang : “Mulutmu Harimaumu”. Itu hanya kiasan saja betapa mudahnya mulut ini mengucapkan sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan orang lain.

Sering terjadi, seseorang sangat menyesali keburukan yang dilakukan dengan tangannya -misalnya-, walau sekali, namun berulangkali lisannya berbuat keburukan, jangankan disesali, bahkan dirinya tidak merasakan bahwa itu adalah keburukan.

Pernahkan anda merasa sakit hati oleh ucapan seseorang ?, merasakan pedihnya fitnah keji dan kabar dusta tentang anda ?, merasakan ‘kesel dan ’empet mendengar omongan penuh bualan dan kesombongan ?, mengalami cekcok dengan orang terdekat karena isu-isu bohong ? dan masih banyak lagi keburukan yang dirasakan akibat penggunaan “mulut” yang tidak benar.

 itu artinya kita harus hati-hati menjaga mulut kita, bukan tidak mungkin ada orang lain yang pernah merasakan seperti apa yang kita rasakan karena mulut kita yang tidak terjaga. Hati-hatilah dalam masalah mulut, karena dia dapat menjadi salah satu sumber kesulitan dalam hidup kita, sebagaimana dia dapat menjadi sumber kebahagiaan kita manakala kita jaga dengan baik.

Ucapan orang lain yang tidak terkendali kepada kita, bukan alasan bagi kita membalasnya dengan ‘melepaskan’ mulut kita tanpa kendali.

Cukuplah sebuah pesan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam kepada kita: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hah akhir, berkatalah yang baik atau diam” 

Kemudian masalah kehormatan kita. Hendaklah kita jaga sekuat-kuatnya. Jangan sampai karena bisikan mereguk kesenangan sesaat, kita korbankan kehormatan kita. Apalagi bagi yang telah berkeluarga. Continue reading

Artikel: Ini Cuma Sebentar…. !

Hidup Ini Cuma Sebentar…. !

akhiratPernahkan kita mengamati, berapa lama hidup yang telah kita lalui ?.

Kalau belum, mari kita tengok sejenak ke belakang, saat kita masih kanak-kanak; main ‘boneka-bonekaan’, main ‘mobil-mobilan’, main ‘hujan-hujanan’ dan main  ‘masak-masakan’…. Masa-masa yang indah bukan?. Lalu kini, usia kita sudah di atas dua puluh atau tiga puluh tahun, ada yang sudah berkeluarga, bahkan ada yang sudah beranak cucu. Perhatikanlah….telah berapa lama kita hidup ?…, ternyata seperti baru ‘kemarin’ saja.

Kita mungkin merasa bahwa kita masih lama menjadi kakek-nenek, tapi tanyalah kakek-nenek kita. Merekapun akan merasakan bahwa masa kanak-kanak dan masa mudanya, seperti baru kemarin saja.

Kesimpulannya, hidup ini cuma sebentar….. !

Allah-pun telah mengabarkan bagaimana perasaan orang-orang dihari kiamat nanti tentang lama mereka tinggal di dunia;

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari” (QS. an-Nazi’at : 46)

Apa gunanya kita mengingat hal tersebut ? Continue reading

Artikel: Yang Lalu Biar Berlalu….

Yang Lalu Biar Berlalu….

dont look back

Mengutip judul di atas, bukan berarti saya mengingatkan anda pada bait dalam sebuah lagu dangdut tempo doeloe. Tapi judul di atas adalah sebuah resep jitu bagi siapa yang tidak ingin tersiksa oleh apa yang lenyap darinya atau yang gagal diraihnya.

Tidak sedikit orang yang tersiksa oleh kenangan buruk yang pernah menimpanya; Mobil barunya yang hilang, keuntungan besar di pelupuk mata yang tiba-tiba sirna, modal yang dikumpulkan bertahun-tahun ludes karena usaha yang gagal atau musibah, pria atau wanita idaman yang gagal menjadi pendamping hidupnya, atau dikhianati dan disakiti orang-orang terdekat… dan berbagai kejadian buruk lainnya yang selalu dialami oleh setiap orang.

Semakin sering hal tersebut kita ingat-ingat, semakin kita berada dalam kondisi yang tidak sehat dan tidak menguntungkan kita sama sekali. Jiwa kita akan tertekan manakala hal ter­sebut kembali kita ingat, sementara apa yang sudah terjadi tidak pernah akan kembali walau sesaat. Lalu untuk apa kita ratapi ?.

Di sisi lain, hal itu merupakan salah satu bentuk ketidakpercayaan kita terhadap takdir Allah. Padahal apapun yang sudah merupakan ketentuan Allah, tidak ada satupun yang menolaknya. Continue reading

Artikel: Ingatlah Selalu Nikmat Allah Kepada Kita

Ingatlah Selalu Nikmat Allah Kepada Kita

aku-bersyukur-ya-allahJalan hidup yang kita tempuh memang berat. Kalau kita boleh memilih, rasanya kita tidak akan memilih jalan hidup ini; meninggalkan orang tua, anak dan suami tercinta, sanak saudara, teman karib dan kampung halaman yang tersimpan segala kenangan indah di dalamnya. Belum lagi berbagai problem yang kita hadapi dalam pekerjaan kita.

Namun dengan takdir Allah, kita berada di sini, untuk masa depan yang lebih baik sebagaimana yang kita cita-citakan.

Seberat apapun hidup ini, tetaplah jangan lupa kita bersyukur kepada Allah Ta’ala.  Bagaimanapun juga, jika  kita amati…, kita hayati kehidupan kita ini….. , akan kita dapatkan bahwa nikmat Allah Ta’ala, karunia-Nya dan kebaikan-kebaikan-Nya yang berlimpah, tak pernah berhenti kita rasakan.

Tubuh kita yang sehat, lengkap dengan panca inderanya, lezatnya makanan yang dapat kita rasakan, nyenyaknya tidur yang dapat kita lalui, udara segar yang dapat kita hirup serta kecukupan sandang pangan dan kebutuhan hidup lainnya, sungguh merupakan kenikmatan yang tiada tara.

Cobalah kita bandingkan dengan mereka yang kini berbaring tak berdaya di rumah sakit, orang-orang cacat, mereka yang tertimpa bencana, yang berada di negeri yang sedang berkecamuk perang, yang serba kekurangan dan dihantui rasa takut, serta berbagai kepedihan yang dialami oleh banyak manusia di sekeliling kita…(jangan lupakan doa kita untuk mereka ….Allahumma farrij Humumahum wa naffis Kurubaatihim… Ya Allah singkirkan dan sudahi kepedihan dan nestapa mereka), maka akan kita dapatkan bahwa apa yang kita alami jauh lebih beruntung dari mereka, bahwa kita tidak hanya hidup dengan satu dua nikmat Allah, tapi di atas ‘lautan’ nikmat Allah yang tak bertepi. Continue reading