E-Book: Hakikat Bid’ah & Kufur (Tanya jawab bersama Al-Imam Al-Muhaddits Al-Albani Rahimahullahu)

NASIHAT BAGI PEMUDA MUSLIM DAN PENUNTUT ILMU

hakikatbidahPertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta’ala seperti :

Pertama : Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

“Artinya : … Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …?” [Al-Mujaadilah : 11]

Kedua : Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian ” Thalibul Ilmi” (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya. Diantara perkara-perkara itu :

  • Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.
  • Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita, 

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahihah. Continue reading

E-Book: Fatwa-Fatwa Ulama Umat Terhadap Sayyid Quthb Rahimahullahu

FatwaUlamathdSayyidQuthbFATWA IMAM ABDUL ‘AZIZ BIN BAZ

Sayyid Quthb -semoga Alloh mengampuninya- berkata di dalam Fi Zhilalil Qur’an (menafsirkan) firman Alloh Ta’ala :

“Ar-Rahman (Alloh yang Maha Pemurah) yang beristiwa` di atas Arsy.” [Thoha : 5]

Beliau berkata : “Adapun istiwa` di atas Arsy dapat kita katakan bahwasanya istiwa` ini merupakan kinayah (kiasan) dari al-Haimanah (penguasaan) atas makhluk (ciptaan)-Nya ini.” [Azh-Zhilal (4/2328), (6/3408) cet. Ke-12, 1406, Darul ‘Ilmi].

Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu berkata :

“Ini semua adalah ucapan yang fasid (rusak), (ia mengatakan) hal ini (istiwa`) maknanya adalah penguasaan, dan ia tidak menetapkan istiwa`. Ini artinya ia mengingkari istiwa` yang telah ma’ruf (diketahui maknanya), yaitu al-‘Uluw (ketinggian) di atas Arsy. Pendapatnya ini batil menunjukkan bahwa dirinya adalah miskin (lemah) dan dhoyi’ (kosong ilmu) terhadap tafsir.”

Tatkala salah seorang dari hadirin berkata kepada syaikh yang mulia bahwa ada sebagian ulama yang menasehatkan untuk senantiasa membaca kitab ini, Samahatusy Syaikh Ibnu Baz menukas : “Orang yang mengatakan demikian gholath (keliru)… tidak… ia keliru… yang mengatakan demikian keliru, kelak kami akan menulis tentangnya insya Alloh.”

FATWA AL-‘ALLAMAH AL-MUHADDITS MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI

Berkata al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu mengomentari penutup buku al-‘Awashim mimma fi Sayyid Quthb minal Qawashim :

“Semua apa yang anda bantah dari Sayyid Quthb adalah haq dan benar. Darinya akan menjadi jelas bagi setiap pembaca sebagai suatu tsaqofah (wawasan) islamiyyah bahwasanya Sayyid Quthb tidaklah mengetahui Islam baik ushul maupun furu’-nya. Semoga Alloh mengganjar anda dengan ganjaran yang baik wahai saudara Rabi’ atas upaya anda di dalam menunaikan kewajiban menjelaskan dan menyingkap kejahilan dan penyimpangan Sayyiq Quthb terhadap Islam.”

FATWA AL-‘ALLAMAH ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN SHOLIH AL-‘UTSAIMIN

Fadhilatusy Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin ditanya : Continue reading

E-Book: 28 Fatwa-Fatwa Puasa

fatwapuasaPuasa ramadhan diwajibkan atas siapa saja? Dan apa keutamaan puasa ramadhan dengan puasa tatowwu`?

Apakah seorang anak mumayyiz diperintah untuk berpuasa? Apakah puasa itu sah jika ia baligh di tengah-tengah puasanya ini?

Apa yang lebih utama bagi musafir, berbuka atau terus berpuasa? Terutama pada safar (bepergian) yang tak ada kepenatan, seperti dalam pesawat atau alat-alat transportasi modern lainnya?

Bagaimana kita bisa menentukan masuk dan keluarnya bulan ramadhan? Dan bagaimana hukum orang yang melihat hilal sendirian mengenai masuk dan keluarnya ramadhan?

Bagaimana manusia berpuasa jika matla`nya5 berbeda? Apakah penduduk negeri yang jauh seperti Amerika dan Australia ketika tidak melihat bulan, diharuskan berpuasa saat penduduk Arab Saudi melihat bulan?

Apa yang diperbuat orang-orang yang waktu siang mereka panjangnya sampai dua puluh satu jam, apakah mereka mengira-ngira puasa mereka? Dan apa yang diperbuat mereka jika waktu siangnya pendek sekali? Demikian pula apa yang harus dilakukan jika waktu siang berlangsung terus menerus sampai enam bulan, dan waktu malam juga berlangsung terus menerus sampai enam bulan?

Apakah kita wajib menghentikan sahur saat adzan subuh berkumandang, ataukah kita diperbolehkan makan dan minum sampai muadzin selesai dari adzannya?

Bolehkah seorang wanita hamil dan menyusui tidak berpuasa? Apakah mereka wajib mengqadha`, atau ada kaffarat (penebus) saat mereka tidak berpuasa itu?

Apa pendapat anda tentang orang-orang yang diberi keringanan untuk tidak berpuasa seperti: lelaki tua, wanita tua, dan orang sakit yang tidak bisa sembuh, apakah mereka harus bayar fidyah dari ketidakpuasaan ini?

Apa hukum puasa bagi wanita haid dan nifas? Jika keduanya mengakhirkan qadha` sampai ramadhan berikutnya, apa yang harus diperbuat mereka berdua?

Apa hukum puasa tatawwu` seperti: puasa enam hari di bulan Syawal, puasa sepuluh hari di bulan dzul Hijjah, dan puasa Asyura`, bagi orang yang mempunyai hutang puasa ramadhan dan belum mengqadha`nya?

Apa hukum seseorang yang mengidap penyakit, kemudian masuk bulan ramadhan dan ia tidak berpuasa, lalu ia meninggal setelah bulan ramadhan, apakah walinya harus mengqadha` puasanya, atau hanya memberi makan saja? Continue reading

E-Book: 20 Fatwa Pilihan Seputar Hukum Zakat

  1. EBOOKZAKATBagaimana hukum meninggalkan zakat itu? Apakah ada perbedaan antara orang yang meninggalkannya karena menentang, karena pelit, dan karena malas?
  2. Ada seorang lelaki yang memiliki berbagai macam binatang ternak, tetapi setiap jenis binatang ternak itu tidak sampai kepada nisab, apakah dia wajib mengeluarkan zakat? Jika dia harus mengeluarkan zakat, bagaimana cara mengeluarkannya?
  3. Bolehkah dua atau tiga orang menggabungkan hewan ternak mereka karena takut zakat?
  4. Ada seseorang yang mempunyai seratus ekor unta, tetapi hampir setahunnya ia memberi makan unta itu dengan biaya, apakah ia diwajibkan zakat?
  5. Keadaan orang miskin yang diberi harta zakat dari waktu ke waktu selalu berbeda. Maka seperti apakah ketentuan orang miskin itu sebenarnya? Jika diketahui bahwa orang yang diberi zakat bukan orang yang berhak, apakah kita harus mengeluarkan zakat lagi?
  6. Ada seseorang yang berada di negeri bukan negerinya, lalu uang yang dimiliknya dicuri orang, apakah ia diberi zakat meski transaksi keuangan di zaman sekarang sangat mudah?
  7. Sebagian orang, ragu untuk memberikan zakatnya kepada kaum muslimin yang berjihad di Bosnia, Herzegovina, atau tempat-tempat lain. Maka bagaimana pendapat anda tentang hal itu? Apa yang paling utama di saat ini, memberikan zakat kepada para mujahidin itu, memberikannya kepada para pengurus markas-markas keislaman di seluruh penjuru dunia, atau memberikannya kepada orang-orang miskin di negeri sendiri, meski kebutuhan mereka (orang-orang miskin) sangat memprihatinkan?
  8. Sudah diketahui bersama; bahwa terdapat banyak perbedaan di kalangan ulama` mengenai zakat perhiasan yang dipakai, perhiasan yang disiapkan untuk dipergunakan, atau perhiasan yang dipinjamkan. Maka bagaimana pendapat anda tentang hal itu? Jika zakat perhiasan memang diwajibkan, maka berapakah nisabnya? Jika memang ada nisabnya, maka bagaimana kita menjawab pertanyaan orang yang mengatakan bahwa dalam hadits “yang menerangkan tentang wajibnya perhiasan untuk dizakati, yang rasulullah mengancam orang yang tidak mengeluarkannya bakal masuk neraka…” tidak diterangkan nisabnya. Bagaimana hal ini digabungkan? Continue reading

E-book Hadiah Bagi Saudaraku Tentang Jawaban-Jawaban Penting Berkenaan Dengan Rukun Islam

Ebook-TuhfatulIkhwan

Dia telah menjelaskan dalam kitab-Nya yang Agung, juga dalam Sunnah Rasul al-amin, tentang perincian ibadah, yang hanya karena ibadah itulah mereka diciptakan. Dia mewajibkan kepada para hamba untuk mengerjakan apa yang difardhukan, meninggalkan apa yang diharamkan dengan penuh keikhlasan, penuh pengharapan, dan penuh ketakutan. Allah Menjanjikan kepada mereka atas semua itu pahala yang agung dan nikmat abadi dalam darul karamah (surga).

Buku kecil ini berisi tentang tanya jawab seputar aqidah, shalat, zakat, puasa dan haji. Saya menganggap baik mengumpulkannya dalam sebuah buku, untuk memudahkan setiap muslim membaca dan mengambil manfaat darinya. Buku ini kami beri nama “Tuhfatul ikhwan bi ajwibatin Muhimmatin tata`allaqu bi arkaan al-islam”. Kami memohon kepada Allah agar menjadikannya bermanfaat bagi kaum muslimin, juga melipat gandakan pahala bagi setiap yang menyebarkan dan menyampaikannya kepada siapa pun yang ingin mengambil faedah, sesungguhnya Dia yang maha suci, sangatlah pemurah dan sangat mulia. Continue reading

E-book: Tanya Jawab bersama Masyaikh Markaz Imam Albani

Ebook-TanyaJawabdgMasyaikhYordaniaSemua pertanyaan dibawah ini terjawab dalam ebook ini; Silahkan download pada link paling bawah;

PERTANYAAN 1 : Sebelumnya anda nyatakan bahwa dakwah salaf menyeru kepada Islam secara menyeluruh, salaf menyeru kepada rukun Islam, jihad dan politik. Pertanyaan kami, sejauh manakah diperbolehkan ikut serta dalam pertarungan politik?

PERTANYAAN 2 : Kapan seseorang dikatakan menyelisihi paham salaf, dengan kata lain kapan dia dikatakan bukan seorang salafi ?dan bolehkah kita katakan bahwa si fulan salafi aqidahnya tetapi ikhwani manhajnya?

PERTANYAAN 3 : Apa pendapat anda dalam menanggapi maslak qiyas, apakah dia termasuk salah satu sumber selain Alquran dan as-Sunnah ?

PERTANYAAN 4 :Apa yang dimaksud dengan mashalih mursalah, Maslahat dakwah dan hakikat hizbiyyah?

ERTANYAAN 5 : Aku adalah pemula dalam menuntut ilmu syar’I, dengan ini kuharap anda dapat menerangkan perbedaan antara manhaj dan aqidah, dan apakah ada beda antara uslub dakwah dan manhaj dakwah?

PERTANYAAN 6 :Apa yang dimaksud dengan at-tamyi’ bagaimana kriteria-kriteriannya, dan apakah perbedaannya dengan al-mudarah?

PERTANYAAN 7 : Bagaimana standar suatu permasalahkan dapat digolongkan ke dalam perkara bid’ah ataupun tidak?

PERTANYAAN 8 : Kita mengetahaui keberan dan keorisinilan dakwah salafiyyah, namun yang disayangkan datang pengkaburan dan kekacauan yang didalangi oleh orang-orang Sururi, yang kutanyakan adalah apa itu paham Sururi dan bagaimanaa kaedah dan prinsip mereka agar dapat diketahui dan kita dapat meghukumi seseorang dengan kaedah ini ?

PERTANYAAN 9 : Orang yang menjadi khatib jumat, apakah harus menjadi imam solat?

PERTANYAAN 10 : Apakah boleh mengakhirkan Sholat karena alasan mengikuti durus (ceramah pelajaran) dalam acara tertentu dengan mengutip sebuah kaedah “al-I’mal muqaddamun ‘ala ihmal” (sesuatu yang penting harus didahulukuan dari yang remeh). Continue reading

E-Book: Menjawab Syubhat Menepis Tudingan Seputar Masalah Ihya’ut Turots

Kesalahan yang sering dilakukan oleh sebagian orang adalah menjadikan masalah-masalah ijtihadiyyah sebagai bahan untuk melakukan hajr, meskipun masalah tersebut berkaitan dengan masalah hukum, bukan ‘aqidah.

Berikut Nasehat al-‘Allamah al-Muhaddits Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr, salah seorang ulama yang paling senior di Madinah, tentang sikap sebagian Ahlus Sunnah di Indonesia yang meng-hajr dan mencela saudara-saudara mereka yang bermu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats:

“Aku katakan, tidak boleh bagi Ahlus Sunnah di Indonesia untuk berpecah belah dan saling berselisih disebabkan masalah mu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats, karena ini adalah  termasuk perbuatan setan yang dengannya ia memecah belah di antara manusia. Namun yang wajib bagi mereka adalah besungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Hendaknya mereka meninggalkan sesuatu yang menimbulkan fitnah. Yayasan Ihya` at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin. Dan wajib atas Ahlus Sunnah di sana (di Indonesia, pen) untuk bersepakat dan meninggalkan perpecahan.” [Jawaban berupa nasehat ini beliau sampaikan di masjid seusai shalat Zhuhur, Kamis, 13 Oktober 2005, atau 10 Ramadhan 1426 H. Pada kesempatan tersebut yang meminta fatwa adalah Abu Bakr Anas Burhanuddin, Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah Zain, dan Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja -penyusun risalah ini-. Kami juga telah minta izin kepada beliau untuk menyebarkan fatwa ini sebagai nasehat bagi Ahlus Sunnah yang ada di Indonesia.] Continue reading

E-Book: Hakikat Bid’ah dan Kufur

Masalah  hajr,  tabdi’,  tahdzir  dan semisalnya adalah permasalahan yang tidak ada habisnya. Fenomena ini terus menerus ada dan semakin lama semakin berkembang subur. Uniknya, fenomena ini berkembang di tengah-tengah barisan orang-orang yang berintisab (berafiliasi) dengan ahlus sunnah. Padahal ahlus sunnah dikenal akan cirinya yang berijtima’ (bersatu) sedangkan ahlul bid’ah dikenal dengan cirinya yang berpecah belah.

Di tanah air kita ini, orang-orang yang mengaku sebagai  salafiyun tidaklah sedikit. Namun, pengakuan adalah suatu hal yang mudah, dan pengakuan belaka tanpa diiringi dengan bukti adalah sekedar pengakuan kosong belaka.

Sebagaimana seorang penyair pernah berkata :

Ad-Da’awi ma lam tuqiimu ‘alaiha  bayyinatin abna’uha ad’iyaa’

Seorang pengaku-ngaku yang tidak ditopang di atasnya Keterangan maka hanyalah pengaku-ngakuan belaka Continue reading